Cerpen Sejarah di Kampung Halaman
“SEJARAH DI KAMPUNG HALAMAN”
Oleh : Ainul Yaqin
Seperti biasa Jalan-jalan pagi mulai ramai, orang-orang hendak bolak balik menampakkan wajah kecemasan dan ada juga yang gembira. Asap-asap kendaraan mulai mengepal diudara. Matahari yang terang benderang mulai menerangi bumi, namun kadang juga tidak nampak sebab tetutup oleh gumpalan awan hitam. Meskipun begitu, bumi masih terus berputar menjalankan titah Tuan-Nya. Hanya saja saat ini alamku tak lagi sama dengan alamku yang dulu. Ditambah lagi dengan teknologi yang semakin canggih dan kemajuan era modernisasi yang mengelabui para generasi. Sejarah sudah tidak lagi di ingat dan budaya mulai diabaikan bahkan ditinggalkan. Karena keadaan yang sedang tidak baik-baik saja sebab Corona, aku kembali ke kampung halamanku.
Aghttt.....alamku....
Beginilah pagi ini aku keluar rumah, menyapa bumi yang kupijak sedang tidak baik-baik saja. Membayangkan bagaimana bumi selanjutnya bekerja. Ah aku tidak mampu memikirkannya. Karena keadaan saat ini saja sudah begitu menghawatirkan.
Kring....kringgg,,, kring kringgg
Dari dalam rumah, Telpon ku berdering. Aku yang saat itu sedang keluar menikmati alam pagiku mendengar bunyi telpon. Karena jarak yang hanya beberapa meter itu aku langsung lari masuk kerumah dan hendak mengangkat telpon.
Yaaa,,,, mati
Dengan nada kesal aku mulai mengoceh pada diriku yang tidak sempat mengangkat telpon. Tapi dengaan tenang aku melihat ponselku, yang benar saja, panggilan itu rupanya dari Mia. Teman satu daerah yang dua tahun lalu aku mengenalnya saat OSPEK Mahasiswa Baru. Perkenalan yang tidak disengaja membawa kami menjadi akrab, bahkan kebetulan dia menjadi teman kelas dan menjadi sahabat baiku sampai sekarang. Setelah beberapa detik berlalu, telpon ku kembali berdering. Mia kembali menelponku, dan sontak aku langsung mengangkat telponnya.
“hallo” Ujar Mia
“iya Mia, kenapa...? Ujarku
“Hari ini jadi kan kita ketemu di Museum Asi mbojo” ujar Mia
“astaga kelupaan....iya mia,,, jadi kok jadi” ujar ku
“ohhh baik dah kalau gitu aku siap-siap dulu” ujar Mia
Teleponnya diakhiri. Dalam hati aku benar-benar marah pada diriku yang lagi-lagi sering kelupaan. Kebiasaan buruk ini harus segera ku tinggalkan.
“Aghttt.....sudah lah aku harus siap-siap” ujarku dalam hati.
Dengan penuh semangat aku keluar dari rumah, Siap berpetualang bersama dengan motor varioku yang sudah berusia 5 tahun itu dan tidak lupa memakai masker. Segera aku akan berkunjung ke salah satu tempat bersejarah yang daerahku miliki. Aku begitu tertarik dengan budaya dan sejarah. Museum Asi Mbojo menjadi tempat tujuan perjalanan aku dan Mia hari ini. Museum Asi mbojo dulunya dikenl dengan nama Istana Asi Mbojo yang di bangun mulai tahun 1927 dan selesai pada tahun 1929. Istana Asi Mbojo ditinggali oleh sultan Bima dan keluarganya, kemudian Istana Bima berubah menjadi museum pada taahun 1989. Benar-benar sejarah yang menarik bagiku. Aku begitu tidak sabar menyusuri setiap sudut tempat bersejarah ini.
Perjalanan dari rumahku ke Museum lumayan jauh, sekitar 1 jam peralanan. Diperjalanan aku kembali mengamati alam ku yang begitu indah. Karena Bima ku lebih dikenal dengn nama Kota Tepian Air. Benar sekali, di setiap jalan yang kulewati aku bisa menikmati keindahan air laut bahkan pagi itu aku bisa melihat para nelayan mulai menyiapkan jaringnya, berdiri tegak bahkan sampannya yang kecil disambut ombak yang berkejar. Namun Ia tak menyerah menjadikan ombak dan angin menjadi teman agar bisa mendapatkan rezeki yang berkah. Begitulah alam bekerja. Lebih dari itu aku bisa melihat bangunan masjid berdiri kokoh di pesisir laut, masjid itu adalah Masjid Terapung Amahami, Kota Bima. Benar-benar keindahan yang memukau, untuk itu kita harus mensyukuri setiap Nikmat yang diberikan-Nya kepada kita.
15 menit setelah melewati keindahan kota tepian air akupun sampai di Museum. Sesampainya di tempat ini aku berjalan memasuki Museum. Saat memasukinya aku melepas sepatu, karena tempat ini memang dijaga bahkan bisa dibilang sakral karena yang menempati museum ini adalah para kesultanan. Saat memasuki bagian dalam museum aku melihat Mia yang sedang asik memotret sebuah gambar bersejarah yang terpajang di lantai satu museum dengan Cameranya.
Karena senang , aku memanggilnya dari arah belakang dengan suara lumayan keras. Langsung dia membalikan badannya seolah mengisyaratkanku untuk diam.
Sssstttttt...! ujar mia dari jauh
Sontak orang- orang didalam museum langsung melihat kearah ku dengan raut wajah kaget seolah mengisyaratkan untuk diam. Lagi-lagi aku membuat kecerobohon, tapi sebenarnya itu untuk mengekspresikan kebahagianku bertemu Mia. Ya, sudahlah itu memang kesalahanku. Langsung saja aku berjalan kearah Mia.
"Mia.." ujarku dengan nada bahagia
"Ehh Anggi udah sampai..." Ujar Mia
Dengan penuh rasa tidak sabar dan semangat aku langsung mengajak Mia untuk menelusuri setiap kamar yang ada di Museum ini. Wah yang benar saja di dalam museum banyak sekali situs kebudayaan yang ditinggalkan oleh Kesultanan Bima. Seperti Al-Quran, tikar, foto pelantikan sultan tahun 1945 masih terpajang di museum inidan dimpan sebagai situs sejarah.
Bahkan setelah memasuki beberapa kamar sultan dan putrinya, ternyata ada satu kamar yang pernah diapakai oleh presiden pertama indonesia. Aku baru tahu sekarang ternyata presiden pertama Indonesia sudah dua kali mengunjung bahkan menginap di Asi Mbojo ini. Pada kunjungan pertama presiden Soekarno adalah saat kembali dari menjalankan pembuangan di Ende-Flores tahun 1939. Bung Karno dibuang ke Ende mulai tahun 1934 hingga 1939. Karena atas saran gurunya, pada itu bung Karno mampir di kesultanan Bima dan menginap di lantai dua Asi Mbojo. Sedangkan pada kunjungan kedua pada tanggal 30 November 1950 menjadi sejarah tersendiri bagi masyarakat Bima atas kunjungan kembali sang proklamator setelah kemerdekaan. Wah sungguh aku baru tahu tentang kunjungan sang Proklamator itu.
Begitu banyak peninggalan sejarah yang ditinggalkan oleh para sultan, seperti Al-Quran, tikar sembahn yang dipakai sultan Muhammad Salahuddin dari tahun 1915-1951 disimpan sebagai pajangan sejarah di museum ini dan masih banyak peninggalan lainnya. Tanpa melewatkan kesempatan, setiap pajangan yang kami temui, kami memotret sebagai bentuk apresiasi untuk para kesultanan dan para pahlawan Bima terdahulu dan sabagai bahan aku dan Mia belajar sejarah. Perjalanan ini cukup keren bagiku.
Tanpa aku sadari, karena begitu senangnya menikmati momen langka ini waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 Wita. Saatnya aku dan Mia pulang. Kami berpisah dari jalan keluar Museum karena memang jalur kami berbeda.
Aku begitu puas dengan perjalanan ku dengan Mia ke museum Asi mbojo. Perjalanan ini memberiku pengetahuan tentang sejarah kerajaan dan kesultanan bahkan aku bisa melihat situs-situs kebudayaan yang sudah ada dari berpuluh-puluh tahun yang lalu. Bahkan masih banyak lagi, sampai aku tidak bisa menyebutkan semuanya.
Namun aku begitu khawatir terhadap genarasi saat ini, mereka tidak begitu tertarik dengan sejarah dan budaya yang ada didaerahnya. Hal ini bisa aku lihat ketika vestival budaya diadakan, sebgian besar yang mengikutinya adalah arang Dewasa dan hanya sebagian kecil anak muda. Seharusnya anak mudalah yang menjadi pewaris budaya dan harus mampu mempertahankan kebudayaan dari pengaruh teknologi dan modernisasi yang telah membodohi para generasi.
Itulah pikaranku tentang genarisku, ah sudahlah. Bukankah semuanya tidak mesti seperti inginku dan pikiran mereka juga tidak sama dengan pikiranku. Tapi perjalan ini begitu meninggalkan kesan kepadaku agar senantiasa untuk belajar sejarah, menjaga dan mencintai budaya dan melestarikan kebudayaan.
"Ayok ke Asi Mbojo”
Dalam hati aku berbicara, aku pun mulai menertawai diriku yang berbicara sendiri seperti.......:)
Mantap👍
BalasHapus🤗
HapusCerita yang menarik
BalasHapusTetap semangat
Hehehe
HapusTerimakasih
Semangat💪
Bagus.
BalasHapusMenarik banget ceritanya
BalasHapusTerimakasih🤗
HapusLuar biasa
BalasHapusLove it 😊 Semangat buat nulis lagi yaa
BalasHapusSemangat ❣
Hapuskeren.. kembangkan 🙏
BalasHapusCerpen yang menarik min🤗
BalasHapuscerpen yang sangat sangat sangat sangat menarik
BalasHapusTerimakasih🤗
Hapus