Kemaliq Ranget (Tempat Pelaksanaan kebudayaan Suku Sasak)

 KEMALIQ RANGET 

Oleh: Ainul Yaqin

Indonesia adalah negara yang kaya akan keberagaman suku, ras, bahasa, agama, adat istiadat dan budaya. Dari sabang sampai merauke terdapat beribu adat/etnis/budaya  yang berbeda di setiap daerahnya. Salah satunya terdapat di provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya di pulau Lombok (Suku Sasak).

Suku sasak adalah suku yang mendiami pulau Lombok dan menggunakan bahasa Sasak sebagai alat komunikasi. Pulau lombok sejatinya adalah kampung halaman dari suku Sasak. Sebagian besar suku Sasak beragama Islam. Di Lombok sendiri terdapat banyak kebudayaan yang masih dijalankan dan diikuti oleh masyarakat suku Sasak sampai saat ini. Dalam proses pelaksanakan kegiatan kebudayaan ini memiiki tempat pelaksanaan  khusus, yang dipercayai oleh masyarak suku Sasak sebagai tempat yang sakral, salah satunya adalah Kemaliq. 

Apa sih yang di maksud dengan Kemaliq?

Kemaliq merupakan suatu tempat untuk melakukan kegiatan kebudayaan, dimana oleh pengikutnya Kemaliq dimaknai sebagai sebuah prasasti peninggalan para leluhur yang harus dijaga dan dirawat oleh Suku Sasak. Setiap tempat di Lombok memiliki tempat-tempat tersendiri yang dipercayai sebagai Kemaliq. Salah satunya adalah kemaliq Ranget yang bertempat di Dusun Ranget, Desa Sesaot, Kecamatan Narmada, Lombok Barat NTB.

Untuk mendapatkan informasi lebih banyak tentang kemaliq ini kami melakukan observasi di Dusun Ranget, Desa Sesaot, kecamatan Narmada, Lombok Barat NTB. Di dusun ini terdapat 67 kepala keluarga yang terdiri dari 240 jiwa penduduk dan semuanya beragama islam. Disana kami melakukan wawancara terhadap salah satu tokoh masyarakat yaitu kepala dusun Ranget bernama Septori Wirawan. Bapak Septori Wirawan juga merupakan keturunan ke-5 yang menjaga dan memelihara kemaliq Ranget. Setiap malam selasa beliau mengunjungi kemaliq Ranget ini untuk berjaga. Selain itu beliau melakukan sholat dan sesekali megirimkan doa berupa Surah Al-Fatiha untuk para leluhur yang terdahulu, sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur terdahulu. 

Bagi yang mengunjungi kemaliq ini, masyarakat setempat mempercayai adanya larangan-larangan bagi orang yang hendak berkunjung. Larangan-larangan tersebut berupa: ketika datang ke kemaliq ini harus membawa niat dan tujuan yang baik, tidak boleh melakukan hal-hal buruk, dan  bagi perempuan yang sedang berhalangan (haid) tidak boleh datang ke tempat ini. Adapun bagi masyarakat yang melanggar pantangan-pantangan dipercaya akan mendapat kesialan.

Selain pantangan-pantangan yang tidak boleh dilakukan saat berkunjung ke kemalik ini,  ada juga beberapa tantangan-tantangan dalam menjalankan ritual kebudayaan di kemaliq ini, diantaranya: angapan masyarakat bahwa kemaliq bertentangan dengan agama, dianggap sebagai sesutu yang buruk (sirik dan bid’ah)dan adanya pengaruh modernisasi terhadap budaya mayarakat yang membawa dampak terhadap ditinggalkannya suatu budaya.

Adanya anggapan-anggapan dan pengaruh tersebut membuat kemaliq dianggap sebagai sesuatu yang salah, seperti anggapan bertentangan dengan agama. Namun jika kita sama-sama mengkaji dan memahami kemaliq dalam konteks budaya kita tidak akan melihat agama dan budaya sebagai sesuatu yang bertentangan. Justru pada prinsipnya budaya merupakan implementasi dari agama begitupun sebaliknya. Dengan banyaknya pengaruh dari luar dan anggapan tersebut membuat Kemaliq dianggap sebagai sesuatu yang buruk. Padahal oleh para leluhur Kemaliq dijadikan tempat untuk bertafakur kepada Allah SWT dengan meperhatikan syariat-syariat yang ada meskipun saat itu syariat belum terlalu dikenal oleh masyarakat.

Oleh karena itu untuk menghadapi tantangan-tantangan tersebut kita sebagai orang yang menempati budaya tersebut harus mampu menjaga dan memeliharanya dari pegaruh luar maupun pengaruh modernisasi yang merajalela saat ini. Karena jika kita tidak bisa menjaga budaya kita maka kita akan kehilangan ciri khas bahkan akan kehilangan budaya tersebut. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kemaliq Ranget

Cerpen Sejarah di Kampung Halaman